Aku terkadang merasa memelukmu Dan aku ingin memelukmu Cahaya yang membuat aku tunduk Setiap kali aku menatap wajah orang orang muda hijrah dari rumah

Aku terkadang merasa memelukmu
Dan aku ingin memelukmu
Cahaya yang membuat aku tunduk
Setiap kali aku menatap wajah orang orang muda hijrah dari rumah
Dan aku menahan diri untuk bertanya
Seperti apakah wajah ibumu dan bagaimana cara bicara juga gerak geriknya?
Cahaya yang membuat aku berdiri mendekapkan kedua tangan
Di pintu masuk terminal sambil tak henti tersenyum menyandang keharuan
Karena seorang bocah gundul dengan pandangan gesit yang polos berjalan di samping bapaknya
Cahaya yang dikabarkan angin sejuk semilir di suatu malam tenang musim hujan
Cahaya yang dilambungkan irama dikir dan nyanyian kesahajaan
Cahaya yang mendiami ingatan sekaligus kenyataan melebihi setiap yang mungkin bisa kupahami
Cahaya yang menemani setiap perjalanan
Dan karenanya menjadi layak dirindu
Aku merasa telah memelukmu
Tapi aku hanya ingin sekali memelukmu

Komersialisasi sendiri tidak selalu sama dengan mata duitan

Komersialisasi sendiri tidak selalu sama dengan ‘mata duitan’. Meski bisa juga disebut demikian. Ini soal alam pikir. Khazanah otak dan hati yang menggerus nilai-nilai sosial kita sebagai manusia. Yang menumpulkan solidaritas dan menihilkan pelayanan umum. Yang menjadikan kita bak makhluk haus uang, karena tanpa uang maka hidup tak bermutu. Inilah alam berpikir neoliberalistis. Dan di kota-kota yang kita tinggali sekarang ini, wajah neoliberal itu muncul dalam berbagai aspek kehidupan. Hampir tak ada lagi yang bisa dilakukan dengan gratis, kecuali bernapas.
Orang-orang usia lanjut di perkotaan kini rajin ikut iuran kematian yang dikelola sebuah yayasan. Yayasan itulah nanti yang akan mengurus segala sesuatu, mulai dari kain kafan, memandikan jenazah, ambulan, bahkan menyiapkan keranda. Mereka mafhum belaka bahwa solidaritas sosial antar-tetangga sudah mulai rapuh. Orang sibuk dengan urusan masing-masing, hingga kematian tetangganya harus diurus sebuah yayasan meski sebenarnya nilai iurannya sangat murah dan cukup membantu.
Sialnya, wajah ideologi serba komersial ini telah menyandera orang-orang kecil sehingga tak ada yang bisa mengubahnya, tanpa menimbulkan korban di kalangan mereka. Orang-orang kecil ini bahkan akan berada di garda terdepan menentang parkir gratis, toilet gratis, air gratis, atau angkutan massal murah.
(Dandhy Dwi Laksono: INDONESIA FOR SALE / LAUT MILIK SIAPA?)
#Iqro’
#PinjamKamar
#@panji_pngestu

Filosofi Keempat Abang gimana ya capek Bang Perjuangan ini terlalu berat Abang kan tahu Papi sama Mami maunya yang sekufu dan mereka selalu bilang yang menusuk hati Adek

Filosofi Keempat

“Abang, gimana ya, capek, Bang. Perjuangan ini terlalu berat. Abang kan tahu, Papi sama Mami maunya yang ‘sekufu’, dan mereka selalu bilang yang menusuk hati Adek. Bahwa Adek anak konglomerat …”

“Dan Abangmu ini melarat. Begitu kan maksudnya?”

“Abang!?”

“Gampang kok, Dek. Papi kamu dulu kan juga cuma dagang mie ayam waktu ketemu mami. Terus mamimu kesengsem setelah nabrak gerobak papimu?”

“Iya itu cerita mereka dulu. Terus?”

“Ya nanti kamu tabrak Abang juga biar romannya agak samaan.”

“Abaaang…! Iiihh…!”

😀
Meski di kiri kanan jurang dalam dan jalan terjal mendaki, banyak keindahan menakjubkan akan kau temui.

Filosofi keempat: “Kamu akan menyadari bahwa ini bukan tentang menaklukkan gunung, tapi menaklukkan diri sendiri.”

Malam ini karena saat pulang saya sdh mesti prepare untuk pekerjaan besok pagi saya belum bisa men share keterangan apa2 atas pertemuaan tadi dengan teman2 GPRS dan teman lainnya

Malam ini karena saat pulang saya sdh mesti prepare untuk pekerjaan besok pagi, saya belum bisa men-share keterangan apa2 atas pertemuaan tadi dengan teman2 GPRS dan teman lainnya. Tapi beragam ide cemerlang menyangkut visi bagi eksistensi dan perkembangan dunia sastra saya petik dari mereka. Suasana hangat dan akrab serta menghibur dari teman2 yg bergantian mendeklamasikan puisi sungguh mengisi ruang hati saya.
Special thanks to: Baruna Cdf, Alex Tanjung, Kelik Nopu, Veronica B. Vonny, Bayu Taji, Getar Senar Cinta, ahun sumbang, dan kang Ireng. Salam buat teman2 lain yang belum bisa hadir. 🙂

Mau punya Loket Pembayaran sendiri Buat Urusan bayar² keluarga atau bantu² Tetangga

Mau punya Loket Pembayaran sendiri
Buat Urusan bayar² keluarga atau bantu² Tetangga..??
Gak perlu repot dan pusing
Pakai saja APLIKASI PAYTREN ?
Keuntungannya.. Setiap TRANSAKSI yg kita lakukan dari PAYTREN jadi bernilai SEDEKAH plus dapat Cashback ?
Keuntungan plus plus lainnya… Kita bisa langsung jadi PEBISNIS Digital
Dengan cara mempromosikan Aplikasi PAYTREN kepada Siapapun untuk ikut menggunakannya ☺
BISNIS PayTren terbuka untuk semua Kalangan
IRT, Bapak² , Pedagang, Petani, Guru atau Anak Sekolahan dan Siapapun bisa gabung
Terutama yg Rajin Online tapi butuh penghasilan tambahan ?
Butuh Info PayTren
Hubungi Saya yaaa ?
???
Pin BBM : D86F0AA4
WA : +886983188935
Atau inbox langsung ?

Kyai Hamid Tak Berdaya Bertemu Nabi Suatu hari Kyai Hamid mengadakan peringatan maulid nabi dengan mengundang para masayikh diantaranya Kiai As ad

Kyai Hamid Tak Berdaya Bertemu Nabi
.
.
Suatu hari Kyai Hamid mengadakan peringatan maulid nabi dengan mengundang para masayikh, diantaranya Kiai As’ad. Kebetulan Kiai As’ad duduk disebelah kanan Kiai Hamid, sedangkan sebelah kanan adalah Kiai Ahmad Sidiq.
.
.
Ketika mahallul qiyam berlangsung, sontak semua hadirin berdiri, kecuali Kiai Hamid. Semua tamu yg jumlahnya ribuan terheran dengan sikap kiai Hamid.
.
.
Setelah acara sudah selesai, semua tamu undangan pulang, hingga tinggallah beberapa masyayikh., lalu Kiai As’ ad menegur beliau: gimana njenengan niki, Kiai? Mahallul Qiyam tadi kok nggak berdiri?
.
.
Kiai Hamid menangis sambil menjawab: “Saya tidak memiliki daya untuk berdiri, sebab Kanjeng Nabi berdiri tepat dihadapanku! Saya merasa kehabisan akhlak. Jangankan ilmu, ibadah dan mujahadah saya, pakaian pun saya malu bertemu dengan Kanjeng Nabi” (Dikisahkan oleh Kyai As’ad dalam suatu majelis).Subhanallah…

Wah ا ل ح م د ل ل ه Bu Suk Mawati minta maaaf atas puisinya yang kontraversial kemaren

Wah, اَلْحَمْدُلِلّهِ
Bu Suk Mawati minta maaaf atas puisinya yang kontraversial kemaren.
Ada beberapa delik hukum untuk puisi Bu Suk mawati, salah satunya adalah penistaan agama. Dan sudah ada 2 laporan kekepokisian yang masuk.
Aah, ini pelajaran berharga, Islam di Indonesia ini masih banyak pemeluknya dan masih banyak yang mencintainya.
Kata Bu Suk Mawati puisi kontraversial itu di buat 2006. Rasanya aneh, kok dibaca 2018 ya?
Sebagai budayawan negeri pasti seharusnya beliau tahu bagaimana kondisi bangsa saat ini. Harusnya berfikir berulang-ulang sebelum membaca puisi itu, kecuali memang ada niat “tertentu” selain sekedar membacanya.
Ummat Islam bukan tidak suka disenggol, tapi senggolannya Bu Suk mawati ke wilayah syariat ajaran Islam, ini salah senggol menurut saya.
By the way, tetap cinta Indonesia ya, dan tentunya makin menguatkan keimanan kita.
Barakallahufikum

Dapatkan 2 coin MLC Free dari ASIAN PROMOTOR Caranya 1 Registrasi klik link di bawah ini Khusus Jawa Bali JAKARTA http mlc ae ref MLC00005 JAKARTA TIMUR http mlc ae ref MLC00138 PANDAAN http mlc ae ref MLC00157 SURABAYA http mlc ae ref MLC00031 MOJOKERTO http mlc ae ref MLC00156 SITUBONDO http mlc ae ref MLC00146 MALANG http mlc ae ref MLC00121 BANDUNG http mlc ae ref MLC00124 PROBOLINGGO http mlc ae ref MLC00126 JOGYAKARTA http mlc ae ref MLC00114 JOGLOSEMAR http mlc ae ref MLC00127 BEKASI http mlc ae ref MLC00134 MALANG http mlc ae ref MLC00159 JEMBER http mlc ae ref MLC00166 BLITAR http mlc ae ref MLC00174 MADURA http mlc ae ref MLC00176 JOMBANG http mlc ae ref MLC00183 CILACAP http mlc ae ref MLC00184 LAMONGAN http mlc ae ref MLC00192 JEPARA http mlc ae ref MLC00194 BALI http mlc ae ref MLC00195 2 Silakan bergabung di GROUP KHUSUS PROMO NEWBI

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?
? ? ? ?
Dapatkan 2 coin MLC Free
dari
*ASIAN PROMOTOR*
*Caranya :*
1. Registrasi klik link di bawah ini :
Khusus Jawa & Bali
JAKARTA
http://mlc.ae/ref/MLC00005
JAKARTA TIMUR
http://mlc.ae/ref/MLC00138
PANDAAN
http://mlc.ae/ref/MLC00157
SURABAYA
http://mlc.ae/ref/MLC00031
MOJOKERTO
http://mlc.ae/ref/MLC00156
SITUBONDO
http://mlc.ae/ref/MLC00146
MALANG
http://mlc.ae/ref/MLC00121
BANDUNG
http://mlc.ae/ref/MLC00124 PROBOLINGGO
http://mlc.ae/ref/MLC00126
JOGYAKARTA
http://mlc.ae/ref/MLC00114
JOGLOSEMAR
http://mlc.ae/ref/MLC00127
BEKASI
http://mlc.ae/ref/MLC00134
MALANG
http://mlc.ae/ref/MLC00159
JEMBER
http://mlc.ae/ref/MLC00166
BLITAR
http://mlc.ae/ref/MLC00174
MADURA
http://mlc.ae/ref/MLC00176
JOMBANG
http://mlc.ae/ref/MLC00183
CILACAP
http://mlc.ae/ref/MLC00184
LAMONGAN
http://mlc.ae/ref/MLC00192
JEPARA
http://mlc.ae/ref/MLC00194
BALI
http://mlc.ae/ref/MLC00195
2. Silakan bergabung di GROUP KHUSUS PROMO NEWBI
https://chat.whatsapp.com/76uHGOcShhH1Y85TYBn2cF
3. Kirim posting data
Nama :
Kota :
Link ID :
Proses 1×24 jam untuk perolehan free Coin
*YouTube*
https://youtu.be/bgf5L0yD1nAl
*ASIAN Promotor :*
Segera posisikan Roadshow Maping lagi di lakukan
WA 081270293769

CINTA Doni Riw Sudah menjadi sunatullah bahwa manusia mencintai dunia harta benda karir popularitas pasangan hidup anak dan lainnya

CINTA
© Doni Riw
Sudah menjadi sunatullah bahwa manusia mencintai dunia; harta benda, karir, popularitas, pasangan hidup, anak, dan lainnya.
Sudah menjadi sunatullah juga, bahwa semua yang dicinta itu akan sirna pada waktunya.
Rela tak rela, siap tak siap, jika telah tiba masanya, semua yang kita cinta akan diambil oleh Nya.
Ketika cinta masih tertambat di dunia, tapi ajal tiba, maka kecewa akan bergelora didada.
Sewaktu harta benda masih menjadi yang utama, tetapi musibah melanda dan semua pun sirna, maka caci maki bergema di hati.
Saat karir, pekerjaan, dan popularitas masih menjadi yang dipuja, maka hati gundah gulana ketika Dia menghendaki semua sirna.
Selagi pasangan hidup dan anak masih menjadi pusat kebahagiaan utama, maka pedih menghujam tatkala Allah tetapkan bahwa mereka pergi tinggalkan kita.
Maka cukup sandarkan cinta pada Sang Maha Sempurna.
Dzat yang tak kan pernah meninggalkan kita, selama hidup di dunia hingga kehidupan setelahnya.
Kecuali kita yang lebih dahulu meninggalkan Nya.
Karenanya kemaslah, cinta harta, cinta karir, popularitas, cinta pasangan, cintai anak, dalam kekal cinta Nya.
Jika harta, karir, popularitas, pasangan itu sudah berada di luar cinta Nya, maka tak ada lagi alasan untuk tetap berpegang pada ketiganya.
Tinggalkan segera sebelum Allah turut membenci kita.
.
(nasihat untuk diri sendiri)
.
Jogja, 4318
.
***
.
te.me/doniriw_channel
fb.me/doniriw
ig @doniriw

KAMBINGPUN DI TAHDZIR Ada seseorang yg senantiasa mengirim via WA si A menyimpang Syech B berpemikiran Ikhwani Ustadz C lembek dan berbagai macam perkataan TAHDZIR lainnya dengan alasan DEMI DAKWAH

KAMBINGPUN DI TAHDZIR
Ada seseorang yg senantiasa mengirim via WA si A menyimpang, Syech B berpemikiran Ikhwani, Ustadz C lembek dan berbagai macam perkataan TAHDZIR lainnya dengan alasan DEMI DAKWAH.
Padahal setau ana A,B,C dll yg mereka sebutkan sebagai DA’I SESAT justru senantiasa berdakwah diatas Al Haq dan mengikuti Manhaj Salafunas Sholih walau memang kadang tergelincir dalam sebuah perkara, sebagaimana kadang ustadz-ustadz mereka juga tergelincir.
Namun….
Sekian banyak kiriman via WA hampir tidak pernah ana tanggapi, karena ana melihat diri ana sendiri yang masih sangat lemah dalam berbagai keadaan.
Lemah ilmunya
Lemah ibadahnya
Lemah akhlaknya
Lemah sodaqohnya
Dan berbagai macam kelemahan-kelemahan lainnya.
Dalam kondisi diri ana yg lemah ini maka ana TIDAK MAU terbawa dengan urusan TAHDZIR MENTAHDZIR karena ana sangat menyadari bahwa hal tersebut bukan domain ana.
Apalagi ana melihat sebagian ikhwah ditempat ana yg suka sibuk dg TAHDZIR MENTAHDZIR sangat lemah dalam hal Ibadah, Sangat pelit dalam hal Sodaqohnya, sangat malas untuk duduk di majelis ilmu, sangat memprihatinkan ahklaqnya dsb.
Sungguh…
Ana meyakini bahwa TAHDZIR adalah salah satu Syariat dari sekian banyak Syariat Islam, tapi tahdziran yang membabi buta semacam mereka maka tidak selayaknya untuk didengarkan.
Pada saatnya nanti bisa jadi seekor Kambing pun ditahdzir gara-gara masuk ke Area Masjid yang Jamaahnya sudah mereka TAHDZIR.
Wal’iyadzu Billah….